Langsung ke konten utama

Kisah Juara Ketiga Lomba Puisi di Masa Kecilku

Hai, selamat siang. Kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang masa kecil saya. Saya sangat suka menulis, meskipun tulisan saya jelek dan tanggan saya lambat karena efek dari penyakit yang saya derita karena faktor genetik bawaan lahir.p


Sampai suatu ketika, saat saya masih sekitar kelas 3-4 di sekolah dasar, saya ikut lomba baca puisi dalam rangka hari besar Islam di ikatan remaja masjid tempat tinggal saya yang bernama Irmada Singkafan dari Ikatan Remaja Masjid Darut Ta'lim.


Tiba-tiba terbersit keinginan saya untuk mengikuti lomba tersebut. Saya mengutarakan keinginan saya kepada ibu saya. Singkat cerita, saya pun mendaftar untuk mengikuti lomba tersebut karena antusiasme saya. Untuk mengikuti lomba tersebut, saya sampai membuat puisi sendiri, walaupun bukan puisi itu yang dibacakan melainkan puisi karya orang lain yang diambil dari majalah Anak Saleh. Karena sudah lama, saya juga sudah lupa dengan judul, isi, serta penulisnya.

Banyak yang antusias ketika saya mengikuti lomba tersebut, bahkan sahabat ayah saya yang berprofesi sebagai seorang tentara mengajar saya bagaimana caranya membaca puisi yang baik dan benar. Saat yang dinanti pun tiba, lomba baca puisi pun dimulai.

Waktu lomba, saya didampingi ibu saya. Ketika saatnya tiba, saat giliran saya dipanggil di atas panggung, para peserta lain membacakan puisinya sementara saya membacakan puisi dengan duduk karena saya tidak bisa berdiri terlalu lama. Jadi, ibu saya meminta tolong kepada kakak saya yang juga pengurus Irma tersebut supaya mengomongkan kepada panitia untuk menyiapkan kursi.

Ibu saya mengantarkan saya sampai dekat panggung kemudian disambut oleh kakak panitia. Lalu, saya didudukkan di kursi dan membacakan puisi saya. Pada dasarnya, saya memang kurang percaya diri, padahal sudah dilatih oleh tentara. Awalnya, intonasi suara saya sudah benar sampai kakak perempuan saya yakin saya bakal jadi juara pertama. Tapi lama-lama suara saya malah mengecil. Begitu selesai, saya diantar oleh kakak panitia dan disambut ibu di bawah panggung. Acara itu diadakan pada malam hari.

Seminggu kemudian, acara puncak hari besar Islam pun dimulai, termasuk pembacaan pemenang lomba. Alhamdulillah, saya pun dinyatakan sebagai juara ketiga untuk lomba baca puisi.

Penyerahan hadiah pun dimulai. Penyerahan dilakukan oleh ustad dari pondok pesantren yang mengisi ceramah pada saat itu. Hadiahnya berupa piagam penghargaan dan penyerahan dilakukan di bawah panggung. Saya didampingi oleh ayah saya pada saat itu. Uniknya, saya bukan duduk di barisan anak-anak seusi saya melainkan di barisan bapak-bapak.

Kemenangan saya sebagai juara ketiga membuat salah satu nenek saya menangis terharu mendengar cucunya jadi juara ketiga.

Itulah percikan kisah masa kecil saya, salah satu kenangan masa kecil yang saya miliki.

Penajam, 13 November 2022

By Jannatul Zahra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Topeng Digital

Pernahkah Anda mengalami kejadian tidak menyenangkan seperti akun Facebook Anda di-hack oleh orang tak dikenal? Atau mungkin pernah terjebak dalam penipuan melalui aplikasi e-wallet? Pengalaman pribadi saya dua tahun yang lalu mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut.  Dua tahun lalu, tepatnya 5 Januari 2023, saya mengalami kejadian tidak mengenakkan. Akun Facebook saya diretas oleh orang tidak bertanggung jawab selama beberapa jam. Saat itu, saya memang lebih suka menggunakan aplikasi versi "lite" yang lebih ringan, seperti FB Lite dan Instagram Lite, karena kapasitas ponsel saya terbatas, hanya 4/64 GB. Semua bermula dari masalah pada aplikasi dompet digital, DANA, yang terhubung dengan nomor Tri saya. Saat itu, nomor saya tiba-tiba tidak ada sinyal, dan transfer tertunda. Saya mencoba melapor ke halaman resmi aplikasi tersebut. Namun, saya justru terjebak dalam jebakan penipu yang menyamar sebagai admin DANA. Singka...

Mengubah Angan Menjadi Nyata: Kisah di Balik Sertifikat Pertama

Mengubah Angan Menjadi Nyata: Kisah di Balik Sertifikat Pertama Hai, mari kita duduk sejenak dan biarkan aku berbagi sebuah cerita yang membuatku sangat termotivasi. Ini bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang sebuah mimpi yang perlahan mulai terwujud. Setelah lima tahun berkarya di KBM App, platform yang didirikan oleh Asma Nadia dan Isa Alamsyah, aku akhirnya mendapatkan sertifikat pertamaku. Perasaanku campur aduk antara kaget, bahagia, dan haru. Aku ingat sekali sore itu, setelah bangun tidur siang, aku membuka ponsel dan mendapatkan pesan dari tim KBM App. Naskahku masuk dalam 30% naskah terbaik di kompetisi Teras Indonesia Season 9. Sebuah pencapaian yang tak pernah terbayang sebelumnya! Sejak pertama kali bergabung dengan KBM App di tahun 2020, aku adalah tipe penulis yang kadang hadir, kadang menghilang. Aku sering gagal menyelesaikan tulisan, bahkan sempat menghapus sebagian besar karyaku, kecuali satu kumpulan puisi berjudul "Puisi Sunyi." Setelah itu, aku me...

Mengunci Pintu Dunia Maya, Membuka Jendela Jiwa

Halo semuanya, hari ini saya ingin curhat tentang pengalaman saya dengan akun media sosial saya. Entah ini sudah ponsel yang ke berapa, akun-akun media sosialku, baik itu Instagram atau Facebook, selalu saja ada yang usil. Padahal saya bukan seorang konten kreator, saya hanya seorang penulis yang baru merintis karir. Meskipun begitu, akun pribadi setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Dulu, selalu ada yang usil dengan akun saya. Entah apa yang menarik dari akun yang saya miliki. Meskipun usaha dagang online saya sudah tidak lagi berjalan, tetap saja ada yang usil. Sebelum saya mengalami kejadian pada 5 Januari 2023, akun saya sudah sering diganggu. Namun, selalu bisa saya atasi. Cita-cita masa kecil saya menjadi seorang penulis juga masih dalam tahap dirintis, namun tetap saja diganggu. Ponsel Motorola G6 merah saya bukanlah satu-satunya ponsel yang berusaha memasuki akun saya. Mulai dari HP LG, Vivo, bahkan ponsel dengan harga ratusan ribu hingga jutaan pernah digunakan untuk m...