Hai, hai, hai! Assalamualaikum!
Bismillahirohmanirohim Masya Allah tabarakallah
Kali ini aku datang lagi, ingin berbagi cerita dengan kalian. Sudah lumayan lama juga, ya, aku tidak menulis di blog Dunia Jaza ini, salah satu blog kesayanganku.
Topik yang ingin kubahas kali ini adalah soal rasa cinta. Ya, rasa cinta. Ketika kalian merasakan cinta tiba-tiba hadir begitu saja, ada kalanya kalian akan merasakan dilema. Dan, voila, itulah yang sedang kurasakan sekarang!
Kalian tahu kan, aku seorang bergolongan darah O. Katanya, orang golongan darah O itu energik, punya rasa cinta yang kuat, dan emosi yang lumayan tinggi. Sedikit bercerita, sebenarnya aku ini tipikal orang yang gampang jatuh cinta. Rasanya mirip seperti judul sebuah kumpulan cerpen yang pernah kubaca, The Lover. Cerpen itu menceritakan sosok gadis yang mudah jatuh cinta, dan aku merasa alur ceritanya sangat mirip denganku yang memang gampang banget suka dengan lawan jenis.
Dari sini, aku belajar bahwa bagaimana pun ujian hidupku, bagaimana pun keadaanku, aku tetap seorang wanita normal. Meskipun, aku pernah berkata tidak ingin menikah.
Mengapa?
Karena aku merasa keadaanku dengan kondisiku yang seperti ini, ditambah lagi aku punya cerita dan kisah yang cukup membuatku trauma, akhirnya melahirkan pikiran itu. Seperti yang kubilang di awal, kondisiku terlahir istimewa, berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain yang bisa berjalan normal.
Ditambah lagi, aku melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri drama rumah tangga kakakku yang nyaris seperti sinetron Indonesia: dikhianati oleh pasangannya. Hal ini sontak membuatku berpikir, "Kalau kakakku saja yang terlahir sehat, bisa menjalani kehidupan normal, bekerja, dan lainnya, tetap saja dikhianati, bagaimana denganku nanti?"
Ironisnya, hal itu tidak hanya dialami oleh satu, tapi dua orang sekaligus! Ya, dua orang saudaraku berumah tangga, dan dua-duanya dikhianati oleh pasangannya, bahkan salah satunya berakhir di meja hijau.
Bagaimana denganku nanti, yang terlahir dengan kondisi "tak sempurna" ini?
Tapi, aku juga tak bisa munafik. Sebenarnya, yang "tak sempurna" hanyalah kakiku, tapi selebihnya yang ada di dalam diriku, normal layaknya seorang perempuan. Aku tak bisa memungkiri, aku pun punya rasa suka pada lawan jenis.
Meskipun aku berpikir dan berkata tidak ingin menikah—karena dua hal tadi yang membuatku trauma pada lelaki dan sangat takut dengan rumah tangga itu sendiri—tahukah kalian apa yang akan dirasakan seseorang ketika jatuh cinta?
Coba lihat gambar kupu-kupu ini yang ada bunga-bunganya dan juga hatinya!
Itulah gambaran ketika seseorang merasakan cinta. Hatinya akan terbang memiliki sayap, dan hatinya akan berbunga-bunga. Gambar ini seolah mewakili perasaanku yang kadang ingin terbang seperti kupu-kupu saat dilanda cinta, dan hati berbunga-bunga.
Gambar ini kudapat dari sebuah aplikasi yang kebetulan aku download. Mungkin kalian yang berteman di Facebook-ku sering melihat (atau bahkan punya album khusus) gambar-gambarku dari hasil mewarnai dengan angka lewat aplikasi ini. Tanpa kusadari, mungkin aku punya bakat seni. Sayangnya, aku tidak bisa menggambar dan ingin sekali belajar, tapi tidak tahu caranya. Sudah lama juga aku tidak sekolah, pendidikanku hanya sampai di resep masak saja, meskipun keinginan untuk kuliah itu kadang masih ada. Entah kapan bisa terwujud.
Tulisan ini kubuat sebagai terapi untuk diriku sendiri, agar aku bisa mengontrol perasaan ini. Yang kulakukan ketika aku merasakan "rasa merah jambu" atau mudah jatuh cinta adalah menuangkannya dalam bentuk puisi atau tulisan lain. Harapannya, ketika aku merasa bahwa ini hanya ujian, aku bisa bersikap biasa-biasa saja dan tidak terlalu memikirkannya lagi.
Semoga tulisan ini bisa menjadi terapi dan membuat hatiku lebih tenang. Mungkin ini adalah bagian dari ujian hidup juga. Mungkin aku harus melakukan sesuatu agar energiku tersalurkan, sehingga pikiran tidak melayang ke mana-mana. Mungkin perlu kegiatan selain menulis di blog, yang juga kadang membosankan. Aku butuh sesuatu yang membuatku lebih bersemangat!
Mungkin menjadi seorang penulis adalah cara untuk menuangkan ide-ideku yang selalu berjalan dan berpikir. Tidak bisa dimungkiri, meskipun kelihatannya cuek, aku sebenarnya memikirkan masa depanku secara pribadi.
Walaupun kata bijak mengatakan bahwa masa depan tidak perlu dipikirkan, yang penting adalah hari ini—dan menurutku itu benar—tapi memikirkan masa depan tentu akan selalu ada di pikiran kita, baik bagi orang yang punya fisik sehat ataupun tidak, seperti diriku.
Penajam, Kamis 16 Oktober 2025
Tulisan oleh Jannatul Zahra
Komentar
Posting Komentar